Friday, 10 April 2015

TINGKATAN HIJAB MANUSIA DENGAN ALLAH

Manusia yang terhalang oleh Hijab Allah dapat diklasifikasikan dalam 3 bagian, yaitu;

1.Adalah golongan yang terhalang oleh KEGELAPAN.
Mereka adalah kaum ateis yang tidak mempercayai Tuhan, mereka orang yang lebih mencintai kehidupan dunia daripada akhirat, karena mereka memang tidak percaya sama sekali akan akhirat. Mereka adalah orang yg hidup seperti Binatang, hijab mereka adalah nafsu dan sahwatnya. Allah berfirman; Apakah kamu pernah melihat orang yang memper-Tuhan-kan hawa nafsunya.(Qs.45:23)
mereka berfikir bahwa puncak kebutuhan dunia adalah pemenuhan hasrat, perolehan syahwat kesenangan, dan pengumbaran kenikmatan kebinatangan. Mereka inilah budak-budak kenikmatan yang menyembah hawa nafsunya.

2.Golongan yang terhijab oleh hijab CAHAYA sekaligus KEGELAPAN. Mereka dapat dibagi menjadi 2 kategori berdasarkan hijab ini, yaitu; dari indera dan dari khayal
A.Kategori ini, terselubungi oleh hijab kegelapan inderawi. Seperti; penyembah berhala, penyembah api, penyembah bintang-bintang, matahari. Mereka menyatakan bahwa seharusnya Tuhan itu bercahaya, indah menawan, berwibawa sehingga tidak mungkin berdekatan dengannya. Namun ia juga harus berupa materi inderawi. Mereka terjebak dalam selubung inderawi.
B.kategori kedua, mereka terhijab oleh Cahaya yang bercampur aduk dengan kegelapan khayal. Mereka telah mampu melampai hijab inderawi dan menyakini bahwa ada sesuatu di belakang benda-benda inderawi, hanya saja mereka belum bisa melewati hijab khayal. Mereka terjebak menyembah sesuatu yang duduk di atas langit, disinggasana 'Arsy. Golongan ini adalah kaum mujassamah. Selanjutnya golongan yang tertinggi di kategori ini adalah kalangan yang menafikan jisimiyyah. Mereka menuhankan yang maha mendengar, maha melihat, maha tahu, maha hidup dan yang tersucikan dari segala atribut posisi. Hanya saja mereka memahami sifat-sifat Tuhan sesuai dengan sifat mereka.

3.Golongan yang terhalang oleh Hijab CAHAYA.
Mereka telah mengetahui makna sifat-sifat Allah secara benar dan Tidak mensifatkan Allah seperti sifat mereka. Mereka mendefinisikan Allah dengan sebagaimana definisi Tuhan menurut Musa sewaktu menjawab pertanyaan fir'aun, apakah Tuhan sekalian alam itu? Musa menjawab; Dia adalah sang Penggerak dan Pengatur langit.
Mereka mengatakan Tuhan adalah Penggerak utama dari lingkaran terjauh yang merangkum seluruh alam. Yang tinggi lagi dari golongan ini adalah mereka yang menyatakan bahwa gerakan jisim-jisim secara langsung merupakan khidmat pelayanan bagi Tuhan semesta alam, serta ketundukan pada-Nya dan pada hamba yang menyembah-Nya yang bernama al-Muta'. Kalau dinisbatkan Cahaya-Cahaya Ilahiah seperti Cahaya Matahari bagi Bulan, Cahaya Bulan bagi Cahaya-Cahaya inderawi.
Allah adalah Obyek ketundukan dari pihak penggerak ini (al Muta'). Dan Allah menciptakan penggerak segala makro dengan mekanisme perintah dan bukan secara langsung.
Demikianlah kategori-kategori kalangan yang tertutup Cahaya. Dan yang berhasil menembus dan sampai hadirat-Nya adalah golongan ke-empat.

4.Golongan ini telah mampu menyingkap jelas misteri dan yang menyelubungi golongan ketiga.
Mereka telah mampu mendekati Wajah Allah, akan tetapi mereka terbakar oleh Cahaya yang menyelubungi Wajah-Nya, kemudian mereka sirna dan meleleh dalam diri mereka. Tidak tersisa lagi keterpakuan tatapan pada diri mereka sendiri karena kehancuran mereka dari diri mereka. Yang tersisa hanya Sang Maha Esa Sejati. Dan inilah yang dimaksud dengan makna firman: Segala Sesuatu hancur kecuali Wajah-Nya. (Qs.Al Qasas 28:88)

No comments:

Post a Comment