Showing posts with label MELIHAT ALLAH. Show all posts
Showing posts with label MELIHAT ALLAH. Show all posts

Sunday, 31 May 2015

TUTUPLAH MATA LAHIR MU DAN BUKALAH MATA BATINMU

Sesungguhnya Allah berfirman; 
Wahai Jibril, tiada balasan yang layak bagi hambaku bila Kuambil kedua mata yang disayanginya, melainkan hanya MELIHAT Dzat-Ku dan bertetangga dengan-Ku di dalam negeri-Ku.

Anas ra. mengatakan; Aku melihat para sahabat Rasulullah sering menangis di sekeliling beliau dengan harapan agar Penglihatan mata mereka hilang. (HR. Thabrani)

Tutuplah Mata Lahirmu dan Bukalah Mata Batinmu.

Sunday, 17 May 2015

PENULIS DAN PENA

Seperti; 
Pena ditangan seorang penulis, yang menulis huruf-huruf dengan goresan pena tersebut. Lalu si Pena mengaku, aku yang menulis Huruf-huruf itu. Karena Pena sudah Lupa dan Tak tahu akan Penulis, maka Pena mengaku-ngaku dirinya sendirilah yang telah Menulis. Padahal Pena itu pada hakikatnya tidak mempunyai kemampuan berbuat untuk huruf-huruf, dan huruf-huruf itu adalah dari Si Penulis pemegang Pena.
Seperti;
Itulah yang terjadi di alam semesta ini.
Pada Hakikatnya
Allah-lah Yang Menulis.

Sunday, 10 May 2015

JAGALAH HATI


Jagalah Hati.
Bagaimana menjaga Hati? Lihatlah,
bahkan gedung bertingkat pun mempunyai system pengamanan untuk menjaga gedung.
Lalu bagaimana dengan sistem pengamanan Hati anda.

Iya, bila petugas pengamanan gedung selalu berjaga di Pintu - Pintu masuk gedung, maka seperti itulah Pintu - Pintu Masuk yang Menuju Gedung Hati anda harus selalu di jaga pula. 
Apa Pintu - Pintu Hati itu, itulah 7 lubang indrawi kita.

Hawa nafsu datang dari Mata turun ke Hati.
Mata itu bukanlah mata penglihatan saja, tapi mata itu juga adalah mata pendengaran, mata penciuman, mata pengucapan.

Friday, 8 May 2015

PERHATIKANLAH ALLAH SELALU

Terus-menerus memperhatikan Allah menghasilkan perubahan secara bertahap dari sifat-sifat hawa nafsu menjadi sifat-sifat Allah.

Bila kita terus menerus didekat api maka kita akan mendapatkan panasnya. 
Dan Apalagi bila kita masuk bersatu ke dalam api kita akan hangus lenyap dan yang tinggal hanya api dan sifat panasnya.

SIAPA YANG SALAH

Tengoklah kesekitar kita,apa yg kita saksikan?
Matahari, bulan, pepohonan, hewan, orng lain, diri kita sendiri, dan lain2, semuanya itu sesuatu selain Allah.padahal Allah berfirman Q.s.2:115;kemanapun km menghadap disitulah Allah.
Dalam hal ini siapa yg salah,Alquran sudah pasti benar, dan yg salah adalah manusia, karena manusia itu kotor masih dipenuhi oleh ke-akuan.sehingga Dia tidak tampak nyata pada pandangan manusia,pandangannya masih dalam pandangan lingkaran syetan yaitu pandangan hanya memandang yg terbatas.maka dari itu,keluarlah dari lingkaran syetan,keluarlah dari ke-akuan (keterbatasan),sehingga kemanapun kita menghadap dan memandang hanya Allah lah disitu...

PANDANGLAH YANG SATU

Engkau pandang kapas dengan kain, 
keduanya satu tetapi namanya lain...
 
Engkau pandang tinta dengan huruf,
keduanya satu namun namanya lain...
 
Engkau pandang air dengan es,
keduanya satu tetapi namanya lain...
 
Engkau pandang tanah liat dengan batubata,
keduanya satu tetapi namanya lain...
 
Sebagaimana perumpamaan ini,maka demikian pula wujud alam dan wujud Allah pada hakikatnya satu jua,
karena alam tidak berwujud dengan sendirinya.

sesungguhnya zohirnya dia berwujud,
tetapi itu hanya prasangkaan saja bukan wujud hakiki,
seperti bayang-bayang didalam cermin rupanya ada,
tetapi tidak ada pada hakikatnya...

Thursday, 23 April 2015

MANAKAH IMAN YANG PALING MULIA ?

MANAKAH IMAN YANG PALING MULIA, IMAN NYA PARA BUDAK YANG MENGATAKAN ALLAH ADA DI LANGIT ATAU IMAN NYA PARA ARIFBILLAH (ORANG YANG MENGETAHUI ALLAH).

Ketahuilah Iman mu, Engkau Termasuk yang mana;

Para budak dan  orang awam yang baru beriman kepada Allah, pasti mengatakan Allah ada di Langit.
Sedangkan Para Arifbillah yang sudah Mengenal Allah, Pasti akan Mengetahui kalau Allah bersama dia dimana saja berada.
  1. "Saya datang kepada Rasulullah bersama seorang budak wanita dan saya bertanya kepada beliau : "Wahai Rasulullah, saya telah mengambil sumpah untuk membebaskan seorang budak. Dapatkah saya membebaskannya ? Di mana Tuhan ? tanya Rasulullah kepada budak tadi. Di langit jawabnya. Dan siapa saya tanya beliau ? Engkau Rasulullah, jawab wanita itu. Kamu dapat membebaskannya, kata Rasulullah.
  2. Dari Abbadah bin Samat r.a, berkata bahwa Rosulullah SAW bersabda;“Semulia-mulianya iman seseorang yaitu ia Mengetahui bahwa Allah bersama dia dimana saja berada.” (HR. At Thabrani).

Sunday, 12 April 2015

Hanya Hati yang Selamat Yang bisa Datang Menjumpai Allah

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
” Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan fu’ad (hati) itu semuanya akan
ditanya tanggung jawabnya. ”
QS 17:36


Karena peran qalbu terhadap anggota tubuh yang lain dan kedudukannya
yang Sangat Penting bagaikan seorang raja yang mengatur anak buahnya, di
mana seluruh anggotanya tersebut bergerak dan bekerja sesuai dengan perintah
sang raja (qalbu/hati) … maka Rasulullah Saw bersabda :

” Ingatlah ! Bahwa dalam tubuh itu ada segumpal darah. Bila ia baik, maka
baiklah seluruh tubuhnya; dan bila ia rusak, maka rusak jugalah seluruhnya.
Itulah Qalbu ! ”
(HR Bukhari dan Muslim)


Jadi, Hati merupakan Raja dari seluruh anggota badan, di mana mereka
melaksanakan segala apa yang diperintahkannya.. Suatu amal (perbuatan)
tidaklah benar, kecuali bila diawali dengan “Niat” yang Benar di dalam Hati.
Sebab Hati itulah yang kelak bertanggungjawab terhadap sah tidaknya segala
amal perbuatan kita… Setiap pemimpin bertanggungjawab terhadap semua hal
yang dipimpinnya…


Dengan demikian, meluruskan dan membuat Niat menjadi BENAR adalah
pekerjaan yang Paling Utama yang harus dilaksanakan oleh hamba-hamba yang
meniti Jalan menuju Allah Ta’ala… Segala sesuatu dinilai dari Niat yang
tumbuh berasal dari dalam Qalbu (Hati)..

Memeriksa (menghisab) dan mengobati penyakit-penyakit Hati adalah suatu
Kewajiban setiap hamba Allah Ta’ala… karena kita manusia Dia ciptakan
hanyalah untuk ber Ibadah lahir dan batin kepada-Nya… karena itulah fitrah
manusia..

PEMBAGIAN QALBU (HATI) :

1. Hati yang Selamat (Sehat)
2. Hati yang mati
3. Hati yang mengandung penyakit-penyakit (sakit)


1. Hati yang Selamat (Sehat) / Qalbin Saliim
adalah Hati yang hanya dengannya manusia dapat datang dan berjumpa Allah
Ta’ala dengan Selamat.

” Pada hari di mana harta dan anak-anak tidak bermanfaat. Kecuali manusia
yang datang kepada Allah dengan Hati yang Selamat (Sehat). ” QS 26:88-89


Qalbu yang Selamat ini adalah Qalbu yang Selamat dari setiap hawa /
keinginan / kehendak yang menyalahi Kehendak / Perintah Allah Ta’ala,
Selamat dari setiap syubhat dan kesalahfahaman yang bertentangan dengan
Kebaikan (Kebenaran), sehingga sang Hati ini Selamat dari penghambaan kepada
selain Allah Ta’ala, dan Lepas dari perbuatan yang menjadikan hakim selain
Rasulullah Saw.. Sehingga akhirnya membuahkan KEIKHLASAN dalam setiap
perilaku (yang sesungguhnya pun merupakan rangkaian Ibadah) kita semata-mata
Hanya kepada Allah Ta’ala, penuh dengan segenap Mahabbah, Tunduk, Pasrah dan
Tawakal, Taubat, Takut dan Penuh Harap hanya kepada Allah Ta’ala…


Bila ia mencintai sesuatu, maka ia mencintainya hanya karena Allah
Ta’ala… Dan bila ia membenci sesuatu, maka ia pun membencinya hanya karena
Allah Ta’ala jua..
Bila ia memberi, hanyalah karena Allah Ta’ala, dan bila ia melarang ataupun
mencegah sesuatu, itupun hanya karena Allah Ta’ala…

Bahkan tidak hanya sampai di situ, ia pun terlepas dari segala
ke-tunduk-an dan per-tahkim-an kepada setiap hal yang bertentangan dengan
Ajaran Rasulullah Saw. Qalbu (Hati) nya terikat sangat Kuat kepada ajaran
ataupun contoh Rasulullah Saw… baik dalam setiap ucapan maupun perbuatan.

” Wahai orang-orang yang ber-Iman ! Janganlah kalian mendahului Allah dan
Rasul-Nya, dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar
lagi Maha Mengetahui. ” QS 49:1


2. Qalbu (Hati) yang mati
adalah hati yang Tidak Mengenal Allah Ta’ala, Tidak Beribadah kepada-Nya..
dengan Tidak Menjalankan Perintah dan hal apapun yang diRidhai-Nya…

Hati yang seperti ini selalu berada dan berjalan bersama hawa /
keinginan / kehendaknya, walaupun itu diBenci dan diMurkai Allah Ta’ala..
Ia tidak peduli apakah Allah Ta’ala ridha kepadanya ataukah tidak..

Bila ia mencintai sesuatu, maka ia mencintai sesuatu karena mengikuti
hawa (nafsu) nya / keinginannya.. dan bila ia membenci sesuatu, maka ia
membencina karena hawa (nafsu) nya.. Begitu juga apabila ia menolak atau
mencegah sesuatu… hawa nya telah menguasainya dan menjadi pemimpin
sekaligus pengendali bagi dirinya…

Kebodohan dan kelalaian adalah supirnya.. Ia diselubungi… dipenjara oleh
kecenderungan / kecintaannya kepada dunia (yaitu hal-hal selain Allah Ta’ala
dan Rasul-Nya).. Hatinya telah ditutupi oleh selubung kabut gelap cinta
kehidupan dunia dan hawa nafsunya…


Ia tidak menyambut dan menerima panggilan Allah Ta’ala… seruan Allah
Ta’ala.. seruan tentang Hari Kiamat.. karena ia mengikuti syetan yang
menunggangi hawa (nafsu) nya.. Hawa nya telah membuatnya tuli dan buta,
sehingga ia tidak tahu lagi manakah yang batil dan manakah yang haq…
Maka berteman dan bergaul dengan orang-orang yang Hatinya telah mati seperti
ini berarti mencari Penyakit..


3. Qalbu (Hati) yang sakit
adalah hati yang Hidup namun mengandung Penyakit-penyakit.
Hati semacam ini mengandung 2 unsur :

1. Di satu pihak mengandung Iman, Ikhlas, Tawakal, Mahabbah, dan
sejenisnya.. yang membuatnya menjadi Hidup

2. namun di pihak lain mengandung kecintaan / kecenderungan kepada hawa
(nafsu), seperti cinta / senang pada kehidupan dunia, sombong, ego, harga
diri tinggi, keluhan, iri (dengki), dan sifat-sifat lain yang dapat
mencelakakan dan membinasakannya…


Hati seperti ini diisi oleh 2 jenis santapan : santapan berupa seruan
(panggilan) dan Perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya akan Hari Kiamat… dan
santapan lain berupa panggilan / kecintaan kepada dunia..
Yang akan disambutnya dari kedua seruan (panggilan) inilah yang paling dekat
kepadanya..


Maka… Hati yang pertama itulah yang Selamat karena Sehat dari berbagai
macam Penyakit Hati, senantiasa Khusyu’, Tunduk, bersifat Lembut..
Sedangkan hati jenis kedua itulah hati yang mati… dan hati jenis ketiga
yaitu hati yang sakit karena mengandung Penyakit, yang mungkin bisa kembali
dengan Selamat (Sehat)… atau ia akan Celaka (Mati)…

(dari “Pembersih Jiwa” : Al-Ghazali r.a, Ibnu Rajab r.a, Ibnu Qayyim
al-Jauziyyah r.a)

HATI ADALAH TEMPAT CAHAYA ILLAHI

Hatimu adalah cermin yang kotor. Engkau harus membersihkannya dari
tabir debu yang menutupinya. Hati ditakdirkan untuk memantulkan cahaya-cahaya

rahasia Ilahi. Ketika cahaya dari:
Allah (Yang) adalah Cahaya langit dan bumi.
mulai menyinari bagian-bagian hatimu, pelita hati akan menyala. Pelita hati itu
di dalam kaca
dan kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya)
Kemudian di dalam hati itu, kilat penyingkapan Ilahi akan memancar. Kilat ini
berasal dari awan-guntur dari makna

yang dinyalakan dengan minyak dari pohon
yang banyak berkahnya,
(yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di
timur dan tidak pula di barat,
dan pancaran cahaya terhadap pohon pengungkapan itu begitu murni, begitu nyata
sehingga ia
menerangi, walaupun tidak disentuh api.
(Q.S. an-N r 24:35)

Kemudian pelita pengetahuan menyala dengan sendirinya. Bagaimana ia tetap padam
ketika cahaya rahasia Ilahi menyinarinya? Jika hanya cahaya rahasia Ilahi yang
menyinarinya, langit malam rahasia akan menyala dengan ribuan bintang

Dan dengan bintang-bintang (engkau)
menemukan jalan (mu).
(Q.S. an-Nahl 16:16)
Bukanlah bintang-bintang yang menunjuki kita, tetapi cahaya Ilalhi. Sebab Allah
telah
menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang.
(Q.S. al-Mulk 67:6)
Jika hanya pelita rahasia yang menyala di dalam batin anda, sisanya akan datang secara sekaligus atau perlahan-lahan. Sebagiannya telah anda ketahui, sebagian lagi akan kami paparkan kepada anda. Bacalah, dengarkan, dan cobalah pahami. Gelapnya awan-kelalaian akan diterangi oleh kehadiran Ilahi, kedamaian, dan keindahan bulan purnama yang akan terbit dari ufuk pancaran
Cahaya di atas Cahaya
(Q.S. an-N r 24:35)

yang selalu terbit di angkasa, melalui garis edar seperti yang Allah
tetapkan, hingga ia
(Q.S. Y s n 36:39)

Bersinar dalam keagungan di pusar angkasa, menyinari gelapnya kelalaian
Dan demi malam apabila ia telah sunyi
(Q.S. adh-Dhuh 93:2)

Demi waktu matahari sepenggalan naik
(Q.S. adh-Dhuh 93:1)

malam kelalaian anda akan menyaksikan terangnya
Sinar surya. Kemudian anda akan menghirup harum
mengingat Allah dan
memohon ampun di waktu sahur.
(Q.S. Ali Imran 3:17)
Kelalaian, dan menyesali masa hidup yang anda habiskan dalam tidur. Anda akan
mendengar nyanyian malam menjelang pagi, dan anda akan mendengarnya berkata,

“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, dan di
akhir-akhir malam mereka memohon ampunan.”
(Q.S. adz-Dz riy t 51: 17-18)

Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia
kehendaki.
(Q.S. an-N r 24:35)
Kemudian melalui ufuk Akal Ilahi anda akan menyaksikan terbitnya matahari

pengetahuan batin. Itulah matahari pribadi anda, karena anda adalah orang
yang dibimbing Allah, lagi berada di jalan yang lurus,
Dan bukan
orang-orang yang merugi
(Q.S. al-A‘r f 7:178)

Dan anda akan memahami rahasia bahwa

Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan
dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan
masing-masing beredar pada garis edarnya.
(Q.S. Yasin 36:40)
Akhirnya, tali itu akan diuraikan sesuai dengan

Dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi
manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
(Q.S. an-N r 24:35)

Tabir akan tersingkap dan tameng akan hancur, yang menunjukkan yang halus dari
yang kasar; kebenaran akan menyingkapkan wajahnya. Semua ini akan bermula ketika
cermin hati anda dibersihkan. Cahaya rahasia Ilahi akan terpancar ke dalamnya jika
anda berharap dan memohon kepada-Nya, dari-Nya, dengan-Nya.


DARI SURAT HADRAT ‘ABD-UL-QADIR AL-JIL NI

Melihat Wajah Allah adalah Untuk orang - orang yang Khusus

Amir bin Uqaili. bertanya kepada Nabi Muhammad SAW, "Ya Rasul Allah, aku bertanya, "Di mana Tuhan kita sebelum menjadikan langit dan bumi?" Maka Beliau menjawab, "Pada waktu itu Tuhan berada di sebuah awan/mendung, di atasnya terdapat hawa dan di bawahnya juga terdapat hawa. Kemudian Allah menjadikan 'Arasynya di atas air."

Dari pernyataan Hadis di atas dapat diketahui bahwa keberadaan Allah adalah Dzat Yang Maha Tersembunyi lagi Maha Gaib. Pada dasarnya tidak ada yang mampu meliput Allah atau melihat keberadaan Allah dengan mata telanjang. Sebab telah dinyatakan dalam firmannya, surat al-An'aam ayat 103 yang artinya : Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat meliput segala penglihatan; dan Dialah yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.

Dan penggalan ayat 255 surat al-Baqoroh yang artinya: Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu pun dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya.
Berdasarkan kedua ayat di atas, maka Allah itu dapat dipastikan wujudnya, akan tetapi sosok, rupa dan bentuknya masih diliputi dengan misteri, rahasia dan teramat halus lagi samar dan tersembunyi. Dia mempunyai sifat-sifat yang Maha Sempurna dan jauh dari sifat-sifat kekurangan. Tidak ada sesuatu yang berada di alam ini dari segala ciptaannya yang menyerupai dengannya di dalam kekuatan, keindahan ciptaan-Nya dan kesempurnaan wajah-Nya.

Nabi Musa dalam usahanya pada suatu waktu ingin bertemu/ melihat Tuhan. Nabi Musa AS bermunajat di gunung Thur Sina pernah memohon kepada Allah SWT agar ia bisa melihat Tuhannya dengan mata kepalanya sendiri sehingga percakapannya dengan Tuhan tidak terhalang oleh tabir. Ia berkata "Wahai Tuhan, perlihatkanlah diri-Mu kepadaku, supaya aku dapat memandang-Mu!" Maka Allah SWT menjawab berikut :
لَنْ تَرَانِى ياَ مُوسَى ِلأَنَّكَ إِذاَ كُنْتَ مَوْجُوْدًا فَأِناَّ مَفْقُوْدٌ عَنْكَ، وَإِنْ وَجَدْتَنِى فَأَنْتَ مَفْقُوْدٌ ، وَلاَ يُمْكِنُ ِللْحَادِثِ أَنْ يَثْبُتَ عِنْدَ ظُهُوْرِ اْلقَدِيْمِ
Artinya: Engkau tidak akan dapat melihat-Ku, wahai Musa, karena bila engkau ada. Maka Aku hilang dari pandanganmu. Dan bila engkau ketemu Aku, maka engkau hilang (tiada). Dan tidak mungkin bagi yang baharu bisa tetap ada, ketika tampaknya Dzat Yang Maha Qodim.

Nabi Musa tidak mampu menatap wajah Tuhan dengan mata biasa. Untuk itu ia harus masuk alam bawah sadar atau fana. Dalam keadaan ini, Nabi Musa dalam alam kasyaf/fana, dalam situasi tak sadarkan diri, semaput, karena Allah bertajalli padanya lewat gunung (thur Sina) yang bergempa. Maka setelah siuman. Ia mengucapkan kata tasbih, terheran, takjub dari melihat Wajah Tuhan, kemudian bertobat dan menyatakan beriman yang pertamanya selama hidupnya.

Peristiwa tersebut dapat diabadikan di dalam ayat 143 surat al-A'raaf yang artinya: Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berbicara (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Maka Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, maka Allah jadikan gunung itu hancur luluh, dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata, "Maha suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman".

Kendatipun demikian ada sedikit ilmu Allah yang telah diberikan kepada hambanya berdasarkan ayat 255 surat al-Baqoroh di atas, dan ayat 28-30 surat al-Jin berikut.
Artinya: (Tuhan) yang mengetahui yang ghaib, Maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya, Maka Sesungguhnya Dia Mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. Supaya Dia mengetahui, bahwa Sesungguhnya Rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu dengan hitungan cermat.

Hal ini dimaksudkan sebagai pengecualian untuk orang-orang tertentu dari kalangan hambanya, bahwa mereka dapat karunia dari Allah. Mereka dapat melihat wajah Tuhan sewaktu mereka di alam tajalli di alam dunia. Pengecualian itu sesuai dengan sifat Allah yang tersembunyi itu bukan dibiarkan tetap tersembunyi, melainkan supaya dikenal oleh para makhluk-Nya, maka menjadikan suatu makhluk yang istimewa, makhluk perantara sebagai tempat dan alat untuk mengenal-Nya, karena padanya dititipkan sifat-sifat, asma dan af'al-Nya. Maka dengan mengenal makhluk ini, berarti mereka mengenal Tuhan. Pernyataan ini sesuai dengan bunyi hadis Qudsi yang artinya, "Aku adalah bagaikan perbendaharaan yang tersembunyi, maka Aku menghendaki supaya Aku dikenal, karena itu Aku menjadikan makhluk, lalu Aku memperkenalkan (sifat-sifat, asma dan af'al diriku) kepada mereka. Dengan mengenal mereka, maka makhluk/manusia lain mengenal Aku.

Perlu ditegaskan di sini bahwa para Nabi, Rasul dan wali mengenal dan menemukan Allah itu di alam fana mereka dan di alam baqa'nya Tuhan. Maka di alam itu Allah bertajalli/menampakkan diri pada mereka. Mereka senantiasa diliputi alam kasyaf, yakni tersingkapnya alam gaib/alam bertirai bagi mereka, menjadi alam yang terang benderang. Alam yang bagi orang lain masih dirasa sebagai alam yang gelap bahkan alam yang hitam pekat (dhulumat), namun bagi para Nabi, Rasul menjadi alam yang transparan. Dengan kejadian ini maka dapat di simpulkan bahwa Tuhan itu oleh orang-orang khusus dapat dilihat di dunia ini. Dan ini tidaklah mustahil, melainkan termasuk perkara yang jaiz atau wenang. Dan kalau mustahil maka Nabi Musa tidak mungkin akan memohon kepada Allah barang yang mustahil. Sayyidina Ali RA sering mengalami fana
atau wuquf dalam aktivitas dzikirnya untuk bertemu Tuhannya, ia berdialog dengan-Nya di alam fana, mengatakan:
وَفِى فَنَائِى فَنَا فَنَائِى وَفِى فَنَائِى وَجَدْتُ أَنْتَ
Artinya; Di dalam alam fanaku, leburlah aku. Dan dalam keadaan lebur itu, aku bertemu Engkau Tuhan.

PEMBUKAAN HATI KE YANG MAHA GHAIB

Pembukaan pintu hati  ke Alam Ghaib ini berlaku juga dalam kondisi-kondisi yang dekat  Wahyu Kenabian,  di mana Intuisi atau Wahyu atau Ilham terbit dalam fikiran tanpa di bawa melalui saluran-saluran indera(pancaindera) sebagaimana seseorang itu menyucikan dirinya dari pengaruh nafsu kebendaan dan menumpukan(konsentrasi) fikirannya kepada Allah.  Maka semakin bertambah teranglah kesadarannya pada Intuisi atau Ilham yang seperti itu.  Mereka yang tidak tahu   tentang perkara ini tidak berhak menafikan hakikat tersebut.

Intuisi(Ilham) ini bukanlah terbatas bagi mereka Kenabian saja.  Ibarat besi,   jika selalu digosok  dan digilap akan menjadi berkilat seperti cermin.   Begitu juga jiwa dan fikiran yang diasuh dengan disiplin sedemikian rupa akan dapat menerima informasi dari Alam Ghaib itu.  Sebab itulah Nabi Muhammad SAW. ada bersabda;
"Tiap-tiap kanak-kanak itu dilahirkan dalam keadaan Islam(fitrah),  maka kemudian ibu-bapanyalah yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani atau Majusi"

Tiap-tiap manusia dalam kesadaran batinnya yang dalam itu pernah  mendengar pertanyaan;
Bukankah aku ini Tuhanmu?"    dan mereka menjawab; "Ya",   sebenarnya" tetapi sesetengah hati adalah ibarat cermin yang penuh debu dan berkarat sehingga tidak memberi bayangan apa-apa di dalamnya.   Tetapi hati Ambiya dan Aulia meskipun mereka itu manusia biasa yang mempunyai perasaan seperti kita,  mereka sangat senang dan cepat menerima semua gambaran atau Ilham Ketuhanan Yang Maha Tinggi itu.

Bukanlah karena Ilmu yang didapati dari Ilham atau Wahyu atau Intuisi itu saja yang menyebabkan Ruh manusia itu dapat menduduki martabat pertama atau paling tinggi di kalangan makhluk,  tetapi juga oleh karena kekuasaannya(Ruh).  Sebagaimana Malaikat-malaikat menguasai atau memerintah unsur-unsur,  maka begitu jugalah Ruh itu.  Ia memerintah anggota-anggota badan.  Ruh-ruh yang mencapai peringkat kekuasaan yang khusus  bukan saja memerintah badan mereka sendiri tetapi juga badan-badan yang lain. Jika mereka menginginkan orang sakit supaya sembuh,  maka sembuhlah ia,  atau orang yang sehat bisa disakitinya;   atau jika mereka inginkan seseorang supaya datang kepada mereka,  maka datanglah orang itu.Oleh karena kerja-kerja Ruh yang kuat ada dua macam;   yaitu baik dan jahat,  maka perbuatan mereka itu pun dibagikan dua macam juga yaitu Mukjizat dan yang lagi satu Sihir.

Ruh-ruh yang kuat ini berbeda dari Ruh-ruh orang biasa dalam tiga perkara:
1.  Apa yang orang lain dapat lihat secara mimpi dalam tidur,  mereka lihat dalam jaga.
2.  Orang lain hanya dapat menguasai badan mereka sendiri saja.  Mereka ini dapat menguasai badan-badan selain  diri mereka juga.
3.  Orang lain mendapat Ilmu dengan belajar dan mengkaji bersungguh-sungguh.   Mereka ini mendapat Ilmu itu secara Ilham atau Wahyu.

Bukanlah ini saja tanda yang membedakan mereka dari orang biasa.  Ada lagi yang lain.  Tetapi itulah saja yang kita ketahui.  Sebagaimana juga kita ketahui yaitu Allah itu saja yang mengenal  DiriNya Yang Sebenar-benarNya,  begitu jugalah  hanya Nabi-nabi itu juga yang mengenal Hakikat Kenabian itu sebenarnya.   Ini tidaklah mengherankan.  Sedangkan dalam kehidupan sehari-harian ini pun kita  mengalami kesulitan untuk menerangkan keindahan sesuatu Syair atau Puisi kepada orang yang tidak tahu dan tidak faham tentang Syair dan Puisi;  atau keindahan warna pada orang buta.

Di samping ketidakmampuan,  ada hal lain  lagi yang menghalang seseorang itu mencapai Hakikat Keruhanian.  Satu daripadanya ialah Ilmu yang diperolehi dari luar.  Sebagai ibarat,  hati itu adalah sebuah telaga,   dan lima indera ialah lima batang pipa air yang sentiasa mengalirkan air ke telaga itu.  Untuk mengetahui isi telaga itu sebenarnya,  pipa air itu hendaklah dihentikan mengalir ke dalam telaga itu untuk sementara waktu,  dan sampah-sampah   yang di bawa oleh pipa air itu hendaklah dibuang dari telaga itu.  Demikianlah ibaratnya.

Sekiranya kita hendak mencapai Hakikat Keruhanian yang suci itu,  maka kita hendaklah sementara waktu menepikan Ilmu yang diperolehi dari proses luar (yaitu yang datang dari luar seperti belajar,  membaca dan sebagainya) di mana biasanya telah menjadi beku dan keras dan bersifat Prasangka  (Doqmatic Prejudice).

Di samping itu ada pula satu kesalahan yang dilakukan oleh orang-orang yang pendek IlmuNya,  yaitu setelah mereka mendengar percakapan orang-orang Sufi,  mereka pun merendah-rendahkan taraf ilmu.  Ini adalah ibarat seorang yang bukan ahli dalam bidang Ilmu Kimia mengatakan, "Kimia itu lebih baik dari emas!",   dan ia enggan menerima apabila emas diberikan kepadanya.  Kimia lebih baik dari emas,  tetapi ahli-ahli Kimia yang sebenar-benar pakar sangat sedikit bilangannya.  Begitu jugalah ahli-ahli Sufi yang pakar sebenarnya amat sedikit bilangannya.

Orang yang hanya tahu sedikit saja berkenaan Kesufian adalah tidak lebih tinggi martabatnya dari orang-orang yang berpengetahuan.  Begitu juga orang yang baru mencoba beberapa percobaan dalam bidang Kimia,  janganlah hendak merendah-rendahkan orang yang kaya.

Orang-orang yang melihat berkenaan hal ini tentu akan melihat betapa kebahagian itu adalah sebenarnya berkaitan dengan Mengenal Allah Subhanahuwa Taala.   Tiap-tiap anggota kita ini suka dan tertarik dengan  apa yang sebenarnya ia dijadikan.  Misalnya hawa nafsu suka dengan apa yang dikehendakinya;    marah suka dengan membalas dendam;  mata suka dengan benda yang indah;   telinga suka mendengar muzik yang merdu dan sebagainya.  Fungsi(tugas)   Ruh manusia yang paling tinggi ialah Menyaksi atau Melihat Hakikat,  dan di sanalah ia mendapat ketertarikan dan kesukaannya.  Seorang itu amat gembira diberi jabatan Perdana Menteri,  tetapi kegembiraan itu akan bertambah jika Raja berkawan baik dengannya dan menceritakan kepadanya rahsia-rahasia negeri.

Ahli Ilmu Falak(Astronom) dengan ilmunya dapat membuat peta-peta bintang dan perjalanan falaknya,  akan merasai lebih tertarik pada ilmunya itu daripada pemain catur dengan ilmunya.  Tidak ada yang lebih tinggi dari Allah Subhanahuwa Taala.   Alangkah besarnya ketertarikan dan kebahagiaan yang didapati oleh seseorang itu hasil dari Makrifat Allah.

Barangsiapa yang sudah hilang kemauan untuk mencapai Ilmu yang sedemikian tinggi itu,   maka orang itu adalah ibarat orang yang habis seleranya untuk memakan makanan yang baik-baik;  atau pun seperti orang yang lebih suka memakan tanah daripada memakan roti.  Semua selera badan kasar ini hilang  apabila mati (bercerai nyawa dengan badan).  Selera itu mati bersama badan kasar itu.  Tetapi Ruh tidak mati dan ia tetap membawa apa juga Ilmu tentang Ketuhanan yang ada padanya,  bahkan menambahkan Ilmu itu lagi.

Sebagian hal penting berkenaan Ilmu kita tentang Allah adalah timbul dari kajian dan pemikiran kita tentang badan kita sendiri,  yang membukakan kepada kita kekuatan,   kebijaksanaan dan Cinta Tuhan Yang Menjadikan segalanya.  KekuasaanNya menunjukkan betapa setitik air djadikan kita  seorang manusia yang cukup lengkap.   KebijaksanaanNya ditunjukkan dengan betapa rumit dan sulitnya anggota-anggota kita dan saling persesuaian antara bagian-bagian anggota itu antara satu dengan yang lain.   CintaNya ditunjukkan dengan KurniaNya kepada kita bukan saja anggota-anggota yang paling penting untuk hidup seperti jantung,  hati,  otak,   tetapi juga anggota-anggota yang tidak paling penting seperti tangan,  kaki,  lidah dan mata.   Kemudian ditambah pula dengan perhiasan seperti hitam rambut,  merahnya bibir,   bulu mata yang melentik dan sebagainya.

Maka sewajarnyalah manusia itu diibaratkan sebagai " ALAM KECIL"  dalam dirinya sendiri bentuk dan susunan badan itu hendak dikaji bukan saja oleh mereka yang hendak jadi doktor tetapi juga hendaklah dikaji oleh mereka yang ingin mencapai MakrifatuLlah, sebagaimana juga mengkaji secara mendalam tentang susunan keindahan bahasa dalam Puisi yang agung akan membukakan kepada kita   kebijaksanaan pengarangnya.

Bahwa Ilmu atau Mengenal Ruh itu memainkan peranan yang lebih penting untuk membawa kepada MakrifatuLlah;  lebih penting dari mengenal badan dan tugas-tugasnya.   Badan ini ibarat kuda tunggangan dan Ruh itu ibarat Penunggangnya.  Badan itu dijadikan untuk Ruh,  dan Ruh itu untuk badan.  Jika seseorang itu tidak tahu dirinya yang mana adalah yang paling dekat dengan Dia,  maka apakah gunanya ia mengenal yang lain?   Ibarat pengemis;  yang dirinya sendiri pun payah hendak makan berkata pula ia akan memberi makan kepada penduduk sebuah kampung.
Dalam bab ini kita akan coba sedikit-sebanyak membicarakan keagungan Ruh manusia.Orang yang tidak peduli kepada jiwa atau RuhNya dan membiarkan Ruh atau jiwa itu berkarat dan gelap,  maka rugilah ia di dunia dan di akhirat juga. Keagungan seseorang manusia itu sebenarnya terletak pada usaha untuk menuju Yang Kekal Abadi.  Jika tidak,  dalam dunia fana ini,  manusia itulah yang paling lemah dari segala makhluk karena tunduk kepada kepada lapar,  dahaga,  panas,   sejuk dan dukacita.

Perkara yang paling disukai biasanya paling bahaya kepadanya,  dan perkara yang memberi faedah hanya dapat diperolehi melalui usaha dan susah payah.   Berkenaan dengan Aqalnya pula,  kesalahan yang sedikit saja pada otak bisa menyebabkan ia gila dan rusak.  Berkenaan kekuasaan pula,  gigitan nyamuk saja telah cukup menyebabkan ia resah gelisah dan tidak dapat tidur.  Berkenaan dengan perasaan pula,  dia rasa dukacita hanya dengan kehilangan beberapa sen uang.   Berkenaan dengan kecantikan pula,  dia tidak lebih dari perkara yang kotor dibalut dengan kulit yang licin lunak.  Tanpa dibasuh selalu,  ia menjadi  tidak menarik lagi.

Pada hakikatnya,  manusia itu dalam dunia ini adalah sangat lemah dan hina.   Hanya di akhirat kelak manusia itu akan bernilai dan berharga.  Maka dengan cara "Kimia Kebahagiaan" dia meningkat naik dari peringkat binatang kepada peringkat Malaikat.  Kalau tidak,  peringkat lebih hina dan rendah dari binatang yang akan hancur dan akan jadi tanah.  Maka perlulah bagi manusia di samping sadar tentang ketinggian martabatnya dari semua makhluk,  sadarlah hendaknya tentang lemah hinanya,  karena itu pun adalah satu "anak kunci" membuka pintu Mengenal Allah (MakrifatuLlah).

KIMIA KEBAHAGIAN (IMAM GHOZALI)

MELIHAT CAHAYA-NYA DENGAN CARA MEMATIKAN LAMPU DUNIA

Tuhan adalah cahaya. Sebuah sumber cahaya paling terang yang bersinar di kejauhan. Katakanlah, tidak seorang pun mengetahui letak pastinya. Tuhan adalah cahaya terang, yang dari jauh terlihat samar. Dan kenikmatan adalah bola lampu berwarna-warni. Jadi, kalau ada begitu banyak cahaya berwarna di sekitar kita, apakah masih mungkin untuk kita melihat sinar lain di kejauhan, yang terangnya tersamar cahaya berpendar di sekitar? Benar, saya menjawab tidak.

Lalu ketika semua cahaya warna-warni yang indah itu diambil dari kita, gelap seketika. Tidakkah lebih mudah untuk kita bisa melihat cahaya lain yang bersinar di kejauhan?

Pernah saya mengalami. Menyisihkan waktu, pergi ke pantai, bahkan di ketinggian, hanya untuk bisa menikmati cahaya bintang agar tidak terganggu kerlap-kerlip lampu kota yang menyilaukan. Saya tertawa, betapa bodohnya, saya menertawakan diri sendiri. Untuk mencari bintang saja saya suka mencuri waktu, tapi mencari cahaya Tuhan rasanya malas bukan main.

Pernah rasakan, mati listrik dan memaki pada Perusahaan Lalala Negara? Saya sering! Terutama malam, tapi saya rasa, tidak pernah Bulan terlihat lebih indah daripada waktu seperti itu. Maka samalah dengan Dia, yang baru saja saya ibaratkan cahaya Bulan. Dengan menjadi satu-satunya Cahaya tunggal, entah kenapa, rasa-rasanya Dia menjadi lebih agung dan indah daripada hari-hari biasanya. Menjadi lebih mudah bagi Pe-Salik untuk berjalan menuju si Sumber Cahaya.

Iya...
Matikanlah semua lampu Dunia, dengan Cara menutup Pintunya, Maka Terbukalah Pintu yang mengarah ke- Langit lalu Lihatlah Cahaya Bulan-Nya, indah dan Terang.

ALLAH ADALAH CAHAYA LANGIT DAN BUMI YANG MELIPUTI SEGALA SESUATU

Qs.An NUR 24:35;
Allah Adalah Cahaya langit dan bumi. Cahaya-Nya seperti sebuah lubang yang tidak tembus, yang didalamnya ada Pelita (lampu) besar. Pelita itu didalam tabung kaca, tabung kaca itu bagaikan Bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula dibarat, yang minyaknya hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya diatas Cahaya, Allah memberi petunjuk kepada Cahaya-Nya (itu) bagi orang yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesesutu.

Cahaya-Nya meliputi langit dan bumi, meliputi segala sesuatu, tiada suatu apa pun yang tidak diliputi-Nya termasuk di dalam diri kita.

Sebagaimana Firman Allah QS AL HAMIM 41:54:  Ingatlah, sesungguhnya mereka dalam keraguan tentang pertemuan dengan Tuhan mereka.Ingatlah sesungguhnya Dia (Allah) Maha Meliputi segala sesuatu.

Qs.4:174-175;
Wahai manusia! Sesungguhnya telah sampai kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu, dan telah Kami turunkan kepadamu Cahaya yang terang benderang.
Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepadanya (Cahaya yang terang benderang), maka Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat dan karunia dari-Nya, dan menunjukkan mereka jalan yang lurus kepada-Nya.

Allah itu sangat dekat dengan kita, bahkan berada dalam diri kita,  seperti Firman Allah QS Az Zaariyaat 51:21: Di dalam diri kamu apakah kamu tidak Melihat.

Allah itu sangat dekat, sehinggakan kedekatannya menjadi hijab kepada yang belum Ma'rifatullah.
Yaaaa,….Allah sangat dekat,…INI,.., DI SINI,.. DI DALAM DIRI,…INI….. DIA Sang CAHAYA Maha Meliputi,… jelas sekali,…Tetapi,.. AWAS!!!..(Jangan tersalah, syirik dan kufur akibatnya)Hati-hati…yang kamu lihat dengan mata kasar itu, bukan Dia, itu hanyalah hijab, Segala yang kamu lihat itu adalah hijab, alam ciptaanNya,alam bukan Tuhan,,,Alam akan musnah, hancur ,.. lebur…

LALU BAGAIMANA MELIHATNYA KALAU SEGALA YANG NAMPAK INI ADALAH HIJAB??
Yaaaa.... 
FANA::::::::::::::::
MATI SEBELUM MATI.........

Qs.6:122; Dan apakah orang yang SUDAH MATI lalu Kami hidupkan dan Kami beri dia CAHAYA, dan dengan CAHAYA itu dapat berjalan ditengah orang-orang banyak, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan.

Jadi hanya orang-orang yang SUDAH MATI didalam hidup lah yang dapat Melihat CAHAYA-NYA.
ENGKAU HARUS MENUTUP SEMUA INDRAWIMU, SEHINGGA SEGALANYA MENJADI MUSNAH...TIADA...
KALAU ENGKAU MENUTUP SEMUA INDRAWIMU MAKA ENGKAU MATI, MATI SEBELUM MATI, MATI DENGAN Mengeluarkan DIRI dari dunia artinya memutus hubungan dengannya atau "mati dengan kehendak sendiri" (al-maut al-irâdî) sebagai lawan dari "keluarnya jasad dari dunia" atau "mati terpaksa" (al-maut al-qahrî) atau mati yang tidak dihendaki (al-maut allâ-irâdî). SETELAH ITU ENGKAU AKAN MELIHAT CAHAYA-NYA, TAPI AWAS CAHAYA-NYA PUN ADALAH HIJAB YANG TERTINGGI, karena Allah tiada suatu pun yang menyerupai-Nya (QS Asy Syuraa 42:11), sehingga BANYAK ORANG YANG JATUH KUFUR PADA TAHAP INI SEBAGAIMANA FIRMAN-NYA;

Surat Al-An'am (6), ayat pertama; 'Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi, dan mengadakan Gelap dan CAHAYA TERANG, namun orang-orang yang kafir telah menyekutukan dengan Tuhan mereka.'

Dari Abu Musa, berkata bahwa Rosulullah bersabda;
Tirai Hijab Allah ialah CAHAYA, jika CAHAYA itu terbuka maka keagungan Wajah-Nya akan membakar segala yang ada, dimana Penglihatan Allah sampai kepadanya.(HR. Muslim)

Awal sampai kepada-Nya adalah Menyaksikan Tirai Hijab CAHAYA WAJAH-Nya.

YANG PERTAMA-TAMA AKU BERIKAN KEPADA MEREKA (YANG BERIMAN) ADALAH NUR KU YANG AKU TARUH DI HATI MEREKA (HADITS QUDSI).
Hati yang bersih, di dalamnya ada Lampu yang ber-Cahaya, yang demikian itu adalah Hati orang mukmin.(HR. Ahmad dan Ath Thabarani dari Abu Said al-Khudri)
BARANG SIAPA YANG HATINYA DIBUKA OLEH ALLAH KEPADA ISLAM MAKA IA ITU MENDAPAT CAHAYA DARI TUHAN NYA.(AZ ZUMAR 39 : 22).
BILA HATI SESEORANG TELAH DIMASUKI OLEH CAHAYA MAKA HATI ITU AKAN MENJADI LAPANG DAN TERBUKA.
Lalu orang banyak bertanya:Apakah tandanya hati yang lapang dan terbuka itu?
Jawab Rosulullah;"Ada perhatian terhadap kehidupan Akhirat dan timbulnya pengertian tentang tipu daya kehidupan dunia ini dan ORANG BERSEDIA MENGHADAPI MATI SEBELUM DATANGNYA MATI.(HR.Ibnu Jurair)
Qs.57:69;....Dan orang-orang yang menjadi Saksi atas Tuhan mereka, bagi mereka pahala dan Cahaya.
Qs.33:43-44; Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan para malaikat-Nya, agar Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada CAHAYA (YANG TERANG). Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. Penghormatan mereka ketika mereka MENEMUI-NYA ialah, Salam, dan Dia menyediakan pahala yang mulia bagi mereka.

Mereka yang telah mampu mendekati Wajah Allah, akan tetapi ke-aku-an ego mereka terbakar oleh CAHAYA yang menyelubungi Wajah-Nya dan mereka sirna, fana' dalam diri mereka. Yang tersisa hanya sang Maha Esa. Inilah yang dimaksud "Segala sesuatu hancur kecuali Wajah-Nya.(Qs. Qashash 28:88)