Showing posts with label MUJAHADAH. Show all posts
Showing posts with label MUJAHADAH. Show all posts

Wednesday, 20 July 2016

NAFSA, NAFSI, NAFSU, ANFUS, NUFUS

NAFSA


Dan aku tidak membebaskan Nafsi diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya NAFSA itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang. 

Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidhr membunuhnya. Musa berkata: "Mengapa kamu membunuh NAFSA yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar". 

Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan NAFSA dari keinginan hawa nya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)


NAFSI


dan aku bersumpah dengan NAFSI yang amat menyesali (dirinya sendiri). 

demi NAFSI serta penyempurnaannya (ciptaannya), 


NAFSU


Hai NAFSU yang tenang. 


ANFUS


Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap ANFUS mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)", 

Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari ANFUS mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.

(sesungguhnya telah datang seorang rasul dari Anfus kalian sendiri-QS.9: 128)



NUFUS


dan apabila NUFUS dipertemukan.


Wednesday, 29 June 2016

Syareat Tarekat Hakikat Ma'rifat

Hasil gambar untuk Jalan Lampu Merah

Hukum Islam Dijalankan Agar Tidak Terjadi Kekacauan Sehingga Di Ridhoi Allah.
Syareat Tarekat Hakikat Ma’rifat

Jadi Bagaimana Mau Ma’rifat atau Di Ridhoi Allah, Kalau Terjadi Kekacauan atau Hakikat Tidak didapat, Lalu Bagaimana Mau Tidak Terjadi Kekacauan atau Hakikat Mau didapat Kalau Tidak Dijalankan.
Lalu Bagaimana Mau DiJalankan atau Tareqat Kalau Syareat atau Hukum Tidak Tahu atau Diremehkan atau dianggap Tidak ada Artinya.
Maka Bermimpilah Mau Mencapai Ma’rifat kalau Syareat Tidak Dijalankan apalagi diremehkan…..!!!

Seperti Rambu-Rambu Lalu Lintas yaitu Lampu Merah.
Lampu Merah, Kuning, Hijau Ibarat Hukum Syariat Haram, Makhruh, Sunnah dan Wajib.
Lampu Merah Ibarat Haram yang artinya Tidak Boleh Jalan, Lampu Kuning Ibarat Makhruh artinya Boleh Jalan tapi Hati-Hati, Lampu Hijau Ibarat Sunnah dan Wajib artinya Harus Jalan.
Hukum Peraturan Lampu Merah dijalankan Agar Tidak Terjadi Kemacetan dan Kekacauan Sehingga Tenang dan Damai.
Bagaimana Mau Damai dan Tenang Kalau Terjadi Kekacauan.
Bagaimana Tidak Terjadi Kekacauan Kalau Tidak Dijalankan atau Tidak DiPatuhi.
Bagaimana Tidak Dijalankan Peraturan atau Dipatuhi Peraturan Kalau Peraturannya Tidak diketahui, apalagi diremehkan.

Maka Renungkanlah Itu….!!!

Tuesday, 21 June 2016

Tingkatan Belajar Ilmu Ma'rifatullah

“Belajar ilmu itu mempunyai 3 tingkatan:

1) Barangsiapa yang sampai ke tingkatan pertama, dia akan menjadi seorang yang sombong.
2) Barangsiapa yang sampai ke tingkatan kedua, dia akan menjadi seorang yang tawadhu`. Semakin Berisi Semakin Tunduk.
3) Barangsiapa yang sampai ke tingkatan ketiga, dia akan merasakan bahawa dia tidak tahu apa-apa.”(Tadzkirotus Sami’ Wal Mutakalim:65)

1) Barangsiapa yang sampai ke tingkatan pertama, dia akan menjadi seorang yang sombong.


Dalam hal ini dapat dijelaskan bahwa manusia penuntut ilmu memiliki beberapa kriteria.
Yang pertama adalah mereka yang katanya telah mengetahui segala sesuatu, dia merasa angkuh akan ilmu yang dimiliki.

Tak mau menerima nasihat orang lain kerana dia telah merasa lebih tinggi. Bahkan dia juga menganggap pendapat orang yang memberikan nasihat kepadanya, disalahkannya. Selalu mau menang sendiri, tidak mau mengalah meskipun pendapat orang lain itu benar dan pendapatnya yang salah.

Terkadang dia mengatakan sudah berpengalaman karena usianya yang lebih lama namun sikapnya masih seperti kekanak-kanakan. Terkadang ada dia yang berpendidikan tinggi, namun dia tak mengerti akan ilmu yang dia miliki. Dia malah semakin menyombongkan diri, bongkak di hadapan orang banyak. Merasa dia yang paling pintar dan ingin diakui kepintarannya oleh manusia. Hanya nafsu yang diutamakan sehingga emosi tak dapat dikendalikan maka ucapannyapun mengandung kekejian.

PENJELASAN: Yang dimaksudkan dengan sombong bagi peringkat pertama di atas ialah dia merasakan bahawa kononnya dia sudah tahu banyak perkara. Lalu dengan perasaan sombong dia mula berani mengatakan itu dan ini, melabel itu dan ini dan terburu-buru. Hal ini banyak kelihatan di sekeliling kita.

Ada yang sombong, angkuh dan besar diri dengan ilmu mereka. Ternyata mereka ini adalah golongan yang baru di peringkat awal menuntut ilmu. Ramai di peringkat ini. Bahkan kita semua juga masih di peringkat ini. Kita selalu berasa diri sudah hebat dan mengatakan orang lain salah disebabkan mereka tidak sama dengan pandangan atau pendapat atau ilmu atau pengalaman kita.

Mengetahui bahawa kita masih di peringkat pertama, justeru bersabarlah. Jangan terlalu lekas melabel. Teruskan belajar dan belajar supaya hikmah semakin menebal di dalam diri.

2) Barangsiapa yang sampai ke tingkatan kedua, dia akan menjadi seorang yang tawadhu`.

Namun adalah berikutnya sebuah tingkatan yang membuat semua orang mencintanya karena peribadinya yang mulia meski telah banyak ilmu yang tersimpan di dalam dadanya, ia tetap merendah hati tiada meninggi.

Semakin dia rendah hati, semakin tinggi derajat kemuliaan yang dia peroleh. Sesungguhnya karena ilmu yang banyak itulah yang mampu menjadikannya faham akan hakikat dirinya. Dia tak mudah merendahkan orang lain.

Senantiasa santun dan ramah, bijaksana dalam menentukan keputusan suatu perkara. Dia dengan semuanya itu membuatnya semakin dicinta manusia dan insya Allah, Allah SWT pun mencintainya.

PENJELASAN: Golongan yang lebih tinggi dari golongan pertama ialah segolongan yang tawadhu` dengan apa yang ada pada mereka. Mereka merendah diri dengan ilmu mereka walaupun di dalam dada mereka sudah banyak ilmu dan pengalaman. Sebenarnya ilmu dan pengalaman yang banyak itulah yang menyebabkan mereka faham tentang hakikat ilmu. Lalu mereka berasa tawadhu`.

3) Barangsiapa yang sampai ke tingkatan ketiga, dia akan merasakan bahawa dia tidak tahu apa-apa.”

Sedangkan yang terakhir adalah yang teristimewa. Dia yang selalu merasa dirinya tetap tidak mengetahui apa-apa meskipun ilmu yang dimilikinya telah memenuhi tiap ruang di dadanya. Kerana dia telah mengetahui hakikat ilmu dengan sempurna, semakin jelas di hadapan mata dan hatinya.

Semakin banyak pintu dan jendela ilmu yang dibuka, semakin banyak didapati pintu dan jendela ilmu yang belum dibuka. Justru, dia bukan hanya tawadhu`, bahkan lebih mulia dari itu. Dia selalu merasakan tidak tahu apa-apa, mereka bisa tak berdaya di dalamnya lantaran terlalu luasnya ilmu yang terlalu luasnya.
.
PENJELASAN: Dan yang paling tinggi dan hebat akan tingkatan ilmu mereka ialah apabila mereka merasakan mereka tidak tahu apa-apa. Ini kerana hakikat ilmu semakin jelas dan nyata di hadapan mata dan hati mereka. Semakin banyak pintu dan jendela ilmu yang dibuka, semakin banyak didapati pintu dan jendela ilmu yang belum dibuka. Justeru, mereka bukan sahaja tawadhu`, bahkan lebih mulia dari itu, mereka lalu berasakan mereka tidak tahu apa-apa lantaran terlalu luasnya ilmu sehingga mereka bisa lemas di dalamnya.

Saturday, 30 May 2015

LAUTAN ITU ADALAH HATIMU

Hasil gambar untuk pantai
Pada suatu hari seorang Sufi pergi ke tepi pantai; 
ia menikmati ombak dan berbagai hal yang menarik di laut. 
Sementara ia melepaskan pandangannya, ombak pun datang dan membawa serta kotoran ke tepi. 
Ia melihat pada saat kotoran jatuh ke laut, ombak datang dan mendorong serta membuangnya ke pantai.


Sufi berpikir, "Mengapa laut yang begitu dalam dan luas perlu menghempaskan kotoran yang begitu kecil ke tepi? Tidak dapatkah laut itu menelannya?" 

Lalu ia bertafakur. Dalam Tafakur itu ia mengerti bahwa jika laut membiarkan setiap kotoran yang jatuh tinggal dalam air, maka kotoran ini lama kelamaan akan menumpuk dan pada suatu ketika akan menutup seluruh lautan dan mencemarinya. 

Ia menyimpulkan bahwa sejak semula lautan pasti telah bertekad tidak akan membiarkan kotoran, debu, atau sampah apa pun juga masuk ke dalamnya, dengan demikian laut tetap bersih dan suci.

Iya, Lautan itu adalah Hatimu.

Tuesday, 21 April 2015

Bercocok Tanam untuk menahan nafsu hingga Raja memilihnya

Yusuf, wahai orang yang sangat dipercaya! Terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk yang dimakan oleh tujuh yang kurus, tujuh tangkai yang hijau dan lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu,agar mereka mengetahui.
Dia berkata, agar kamu Bercocok tanam tujuh tahun sebagaimana biasa, kemudian apa yang kamu tunai hendaklah kamu biarkan ditangkainya kecuali sedikit untuk kamu makan.
Kemudian setelah itu akan datang tujuh yang sangat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya kecuali sedikit dari apa yang kamu simpan.
Setelah itu akan datang tahun, dimana manusia diberi hujan dan pada masa itu mereka memeras (anggur).
Dan Raja berkata, bawalah dia kepadaku. Ketika utusan itu datang kepadanya dia (yusuf) berkata, kembalilah kepada Tuanmu dan tanyakan kepadanya bagaimana halnya perempuan-perempuan yang telah melukai tangannya. Sungguh, Tuhanku maha mengetahui tipu daya mereka.
Dia (Raja) berkata, bagaimana keadaanmu ketika kamu menggoda yusuf untuk menundukkan dirinya? Mereka berkata, maha sempurna Allah, kami tidak mengetahui sesuatu keburukan darinya. Istri al aziz berkata, sekarang jelaslah kebenaran itu, akulah yang menggoda dan merayunya, dan sesungguhnya dia termasuk orang yang benar.
(Yusuf berkata), yang demikian itu agar dia (al aziz) mengetahui bahwa aku benar-benar tidak mengkhianatinya ketika dia tidak ada (dirumah), dan bahwa Allah tidak merido'i tipu daya orang-orang yang berkhianat.
Dan aku tidak diriku bebas (dari penjara), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku maha pengampun, maha penyayang.
Dan Raja berkata, Bawalah dia kepadaku, agar aku memilih dia untuk ku. Ketika dia (Raja) telah bercakap-cakap dengan dia, dia (Raja) berkata, Sesungguhnya kamu hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi di lingkungan kami dan dipercaya.
(Qs.12:46-54)

PANCA INDERA MANUSIA ADALAH PINTU KEINGINAN

Segala kekalutan pikiran disebabkan pengaruh dari luar tubuh kita yang terbawa masuk melalui panca- indra. Misalnya mata melihat rumah mewah atau mobil mewah mendatangkankeinginan untuk memilikinya. Hidung mencium wangi masakan mendatangkan rasa lapar dan ingin menyantap masakan tersebut.

Begitulah panca-indra dapat terpengaruh oleh keadaan, sehingga nafsu keinginan berkobar laksana bara api yang membakar sekujur tubuh, akibatnya akan menjerumuskannya ke dalam jurang kekalutan dan kebodohan batin. Adalah suatu kenyataan, bahwa panca-indra dapat membangkitkan berbagai macam perasaan seperti marah, sedih, senang, takut, susah, benci, dsb.
Pentingnya mengendalikan panca-indra dengan tujuan untuk melatih perbuatan, pikiran, dan perasaan kita, agar dapat dikuasai sehingga kita dapat menjadi `tuan bagi diri sendiri'. 
Berbagai hal-hal duniawi yang dapat menyebabkan kita menjadi penuh amarah (mata buta), menjadikan kita penuh kebodohan batin (tuli), dan menjadikan kita penuh nafsu keinginan (kehilangan rasa sejati).

" Panca warna dapat membuat mata menjadi buta, panca suara dapat membuat telinga menjadi tuli, panca rasa dapat membuat lidah kehilangan rasa sejati.".

Mencari Kesenangan Sejati

Kita bisa menikmati hari dengan beragam cara
Memanjakan panca indera dengan kenikmatan:

Menatap pemandangan indah...
Mendengarkan musik favorit..
Memakan kuliner terlezat..
Menghirup aroma suka..

Tapi kesenangan inderawi hanya sementara
Sesaat saja lupa problema dan hilang derita
Namun tetaplah kita memiliki masalah utama:

Kesengsaraan itu absolut, kehampaan itu mutlak
Hedonisme akhirnya berujung memuakkan!
Kita semua pasti menua, sakit, dan mati...

Tak bisa dihindari kita harus hadapi dan sadari
Mengalihkan pada panca indera hanya semu
Kita pahami sang penguasa diri yang bahkan
Kelima indera pun turut padanya, siapakah itu?
Ialah pikiran. Yang mampu memperbudak kita
Walaupun begitu, ia juga yang memerdekakan

Pikiran yang berhasil dikuasai adalah
Pikiran yang memberikan kebebasan

Kebebasan dari keterikatan, Kebebasan dari ketidaktahuan,
Kebebasan dari nafsu dan kebencian,
Kebebasan dari segala duka kehidupan

Bebas dari penderitaan, kebahagiaan abadi. Jadi, tutuplah kelima panca indera kita
Amati pikiran dan padamkan setiap rasa
Itulah kunci menuju tanah suci, Kesenangan yang sejati!!!

BAGAIMANA MEMBERSIHKAN HATI?

"Ingatlah sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat Segumpal Daging. Jika Segumpal Daging itu baik, maka seluruh tubuh juga baik. Jika segumpal daging itu rusak, maka seluruh tubuh juga rusak. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati". (HR Muslim)

Bagaimana cara membersihkan Hati agar Hati Tidak Dikotori oleh Dunia ini,
Apakah semua dunia ini harus kita hancurkan, agar Hati ini bersih sehingga tidak ada lagi yang mengotori lagi.
Itu Tidak Mungkin.

Renungkanlah;

Apakah engkau ingin melapisi seluruh Bumi ini dengan Permadani, atau
apakah engkau hanya melapisi Kaki mu saja dengan sandal, untuk Melindungi kakimu supaya tidak Kotor.

Hati kita ibarat Rumah yang mempunyai Tujuh Pintu,
Rumah itu akan bersih dari kotoran - kotoran dari luar Rumah,
Bila Pintu Rumah Senantiasa Di bersihkan dan ditutup Pintu-pintu nya. 

Seperti alas Kaki atau Sandal dalam Pertanyaan itu.
sehingga Kaki atau diri kita terlindungi, bersih tidak Kotor.

Tuesday, 14 April 2015

HAWA NAFSU, AGAMA, ISLAM, IMAN, IHSAN, DAN TAKWA

1. Syetan, Dunia, Hawa, Nafsu tempat masuknya melalui Panca Indera.

Syetan masuk melalui Pendengaran.

"Maukah Aku beritakan kepadamu, kepada siapa Setan-Setan itu turun? Mereka turun kepada setiap pendusta yg banyak dosa, mereka Menghadapkan PENDENGARAN (kepada Setan) itu, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta."(Qs.26:221-223)

Dunia, Hawa dan Nafsu datang melalui pintu indera lainnya.

"Di jadikan terasa indah dalam Indrawi manusia cinta terhadap apa yang di inginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yg bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup Dunia, dan di sisi Allahlah tempat kembali yg baik."(Qs.3:14)
"....Janganlah kedua Matamu berpaling dari mereka karena mengharap perhiasan kehidupan Dunia, dan janganlah engkau mengikuti orang yg Hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti Hawa Nafsunya dan keadaannya sudah melewati batas."(Qs.18:28)
"Dan janganlah engkau Tujukan pandangan Matamu kepada kenikmatan yg telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka, bunga kehidupan Dunia. Agar Kami uji mereka dgn itu. Karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal."(Qs.20:131)
"Dan sekiranya Kami menghendaki niscaya Kami tinggikannya dgn itu, tetapi dia (melalui Panca indera) cenderung kepada Dunia dan mengikuti Hawa nafsunya,....(Qs.7:176) 

2. Agama (Addin) tempatnya di Akal.

"Sesungguhnya Agama bagi orang yang ber-akal."(Al Hadits)
"Katakanlah; marilah aku bacakan apa yg diharamkan Tuhan kepadamu. Jangan mempersekutukan-Nya dgn apapun, berbuat baik kepada ibu bapak, janganlah membunuh anak-anakmu karena miskin. Kamilah yg memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka, janganlah kamu mendekati perbuatan yg keji, baik yg terlihat ataupun yg tersembunyi, janganlah kamu membunuh yg diharamkan Allah kecuali dgn alasan yg benar. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu menggunakan Akal."(Qs.6:151)
"Dan jika kamu bertanya kepada mereka, Siapakah yg menurunkan air dari langit lalu dgn itu dihidupkannya bumi yg sudah mati? Pasti mereka akan menjawab; Allah. Katakanlah; segala puji bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak menggunakan Akal.(Qs.29:63)

3. Islam tempatnya di Dada (Shudur).

"Barangsiapa dikehendaki Allah akan mendapat hidayah, Dia akan membukakan Dada (Shudur) nya untuk Islam. Dan barangsiapa dikehendaki-Nya sesat, Dia jadikan Dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia mendaki ke langit....(Qs.6:125)
".....orang-orang yang dibukakan Dada (Shudur) nya oleh Allah untuk Islam, dia mendapat Cahaya dari Tuhannya...."(Qs.39:22)

4. Iman tempatnya di Hati (Qolbu).

"....Orang-orang yg mengatakan dgn mulut mereka; kami telah beriman. Padahal Qolbu (Hati) nya belum beriman...."(Qs.5:41)
"Sesungguhnya orang-orang yg beriman adalah mereka apabila diingatkan kepada Allah, gemetar Qolbu (Hati) nya...."(Qs.8:2)
"Orang-orang yg beriman dan Qolbu mereka menjadi tentram dgn mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah Qolbu menjadi tenteram."(Qs.13:28)
"....Orang-orang yg tidak beriman kepada Akhirat, Qolbu mereka mengingkari, dan mereka adalah orang yg sombong."(Qs.16:22)
"Dialah yg telah menurunkan ketenangan ke dalam Qolbu orang-orang beriman untuk menambah keimanan atas keimanan mereka...."(Qs.48:4)
"Orang-orang Arab Badui berkata; kami telah beriman. Katakanlah; kamu belum beriman, tetapi katakanlah; kami telah tunduk, karena Iman belum masuk ke dalam Qolbu (Hati) mu....(Qs.49:14)

5. Ihsan tempatnya di Fuad (Mata Hati).

"Fuad (Hati) nya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya.(Qs.53:11)
....Ihsan adalah beribadahlah kamu seakan-akan Melihat Allah.....(HR. Muslim)

6. Takwa tempatnya di Lubb (Akal/Kesadaran Hati).

"....Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah Takwa. Dan ber-Takwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai Lubb! (Qs.2:197)
"....maka ber-Takwa-lah kepada Allah wahai orang-orang yang mempunyai Lubb, agar kamu beruntung.(Qs.5:100)
"....Maka ber-Takwa-lah kepada Allah wahai orang-orang yang mempunyai Lubb! Orang-orang yang beriman. Sungguh, Allah menurunkan peringatan kepadamu.(Qs.65:10)

".....Sungguh, yang paling Mulia diantara kamu di sisi Allah adalah orang yang Paling ber-Takwa.....(Qs.49:13)

Sunday, 12 April 2015

PENTINGNYA MENGENDALIKAN PANCA INDERA

Bila Panca indera kontak dengan objeknya, mereka akan mengukur sifat-sifat yang berbeda. Misalnya, indera peraba mengukur sifat panas dan dingin, sebagai akibatnya, engkau mengalami rasa senang atau sedih. Hanya dengan memiliki alat indera itu engkau tidak merasa senang atau sedih. Bila alat indera itu kontak dengan objeknya, barulah engkau akan mengalami kegembiraan atau kesedihan. Sekarang engkau berada di sini, ini berarti telingamu pun ada di sini. Andaikata ada sesuatu yang terjadi di kampungmu, entah baik entah buruk, engkau tidak akan merasa bahagia atau pun sedih, senang atau susah, selama telingamu tidak mendengar berita itu. Kemudian engkau menerima telepon dan engkau tahu apa yang terjadi di kampung. Jika berita itu baik, engkau merasa gembira, jika beritanya buruk engkau merasa sedih. hanya bila indera bersentuhan dengan objeknya engkau akan merasa gembira atau sedih.

Ada banyak sekali objek indera di dunia, tetapi engkau harus menjaga agar alat inderamu tidak berhubungan dengan terlalu banyak objek. Objek-objek itu tidak kekal. Kalau terjerat ke dalam hal-hal yang kecil atau remeh, seluruh hidupmu akan tidak berarti dan tidak suci. Engkau dapat melihat contoh ini pada beberapa binatang atau serangga yang menjadi korban akibat salah satu atau dua alat inderanya. Misalnya, jika seekor rusa mendengar musik yang merdu, ia lalu sangat tertarik dan dapat dengan mudah ditangkap.

Karena itu, rusa terikat oleh suara. Gajah yang besar dapat dijinakkan melalui indera atau alat peraba, karena itu ia terbelenggu akibat sentuhan. Dengan cara ini banyak binatang dapat diikat dan dikuasai melalui alat indera yang berbeda-beda. Umpamanya jika kelekatu melihat cahaya, ia tertarik pada cahaya itu lalu terikat dan binasa karenanya. Begitu pula ikan makan umpan lalu tertangkap karena terikat pada rasa. Dan lebah memasuki kembang karena tertarik oleh baunya, lalu terperangkap pada malam hari ketika daun-daun bunga itu menutup. Masing-masing binatang tadi terikat oleh kelima inderanya, karena itu ia lebih rendah daripada semua binatang ini.

Pada suatu hari  seorang Sufi pergi ke tepi pantai; ia menikmati ombak dan berbagai hal yang menarik di laut. Sementara ia melepaskan pandangannya, ombak pun datang dan membawa serta kotoran ke tepi. Ia melihat pada saat kotoran jatuh ke laut, ombak datang dan mendorong serta membuangnya ke pantai. Sufi berpikir, "Mengapa laut yang begitu dalam dan luas perlu menghempaskan kotoran yang begitu kecil ke tepi? Tidak dapatkah laut itu menelannya?" Lalu ia bertafakur. Dalam Tafakur itu ia mengerti bahwa jika laut membiarkan setiap kotoran yang jatuh tinggal dalam air, maka kotoran ini lama kelamaan akan menumpuk dan pada suatu ketika akan menutup seluruh lautan dan mencemarinya. Ia menyimpulkan bahwa sejak semula lautan pasti telah bertekad tidak akan membiarkan kotoran, debu, atau sampah apa pun juga masuk ke dalamnya, dengan demikian laut tetap bersih dan suci.

Segala kekalutan pikiran disebabkan pengaruh dari luar tubuh kita yang terbawa masuk melalui panca- indra. Misalnya mata melihat rumah mewah atau mobil mewah mendatangkan keinginan untuk memilikinya. Hidung mencium wangi masakan mendatangkan rasa lapar dan ingin menyantap masakan tersebut.

Begitulah panca-indra dapat terpengaruh oleh keadaan, sehingga nafsu keinginan berkobar laksana bara api yang membakar sekujur tubuh, akibatnya akan menjerumuskannya ke dalam jurang kekalutan dan kebodohan batin. Adalah suatu kenyataan, bahwa panca-indra dapat membangkitkan berbagai macam perasaan seperti marah, sedih, senang, takut, susah, benci, dsb.

Pentingnya mengendalikan panca-indra dengan tujuan untuk melatih perbuatan, pikiran, dan perasaan kita, agar dapat dikuasai sehingga kita dapat menjadi `tuan bagi diri sendiri'. hal-hal duniawi dapat menyebabkan kita menjadi penuh amarah (mata buta), menjadikan kita penuh kebodohan batin (tuli), dan menjadikan kita penuh nafsu keinginan (kehilangan rasa sejati). "

Panca warna dapat membuat mata menjadi buta, panca suara dapat membuat telinga menjadi tuli, panca rasa dapat membuat lidah kehilangan rasa sejati."

PANCA INDERA DAN HATI

Yang Pertama di berikan Allah adalah Panca Indera berupa Pendengaran dan Penglihatan, Barulah Kemudian Hati.

"Kemudian Dia menyempurnakan dan meniukan ke dalam (tubuh)nya roh-Nya, dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. " (QS. As-Sajdah:9).

Dalam ayat di atas, Allah memberi indera manusia pendengaran, penglihatan, dan Hati (akal fikiran), karena pendengaran bayi lebih dahulu berfungsi dibanding penglihatan. Sedangkan hati atau pikiran disebut paling akhir, karena akal baru berfungsi setelah berfungsinya pendengaran dan penglihatan.

Dan Yang Pertama Yang Ditanya Oleh Allah adalah Panca Indera Manusia yang berupa Pendengaran dan Penglihatan barulah kemudian Hati.

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai Pengetahuan tentangnya. sesungguhnya Pendengaran, Penglihatan dan Hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya. (QS. 17:36)

Kenapa Panca Indera Dahulu yang ditanya? jawabnya, karena Panca Indera itu adalah Pintu Pengetahuan yang Masuk kedalam Hati.

Tapi Yang Pertama diHukum, dicela, dikecam dan di Peringatkan, oleh Allah adalah Hati, Barulah Penglihatan dan Pendengaran.

ketika Allah menjelaskan penciptaan manusia dan memberinya indera, selalu menyebut lebih dahulu menyebut “al-Sam’a” (pendengaran) dari  “al-abshara” (penglihatan, dapat diperhatikan ayat-ayat berikut: QS.10: 31; QS. 16: 78; QS. 23: 78, dan QS. 67: 23; dan apabila sebutan al-sam’a di belakang sebutan “al-abshar”, maka dapat disimpulkan dalam rangka mengecam atau mencela, seperti firman Allah di bawah ini:

وَلَقَدْ ذَرَأْناَ لِجَهَنَّمَ كَثِيْراً مِنَ الْجِنِّ وَاْلاِنْسِ لَهُمْ قُلُوْبٌ لاَ يَفْقَهُوْنَ بِهاَ وَلَهُمْ اَعْيُنٌ لاَ يُبْصِرُوْنَ بِهاَ وَلَهُمْ آذَانٌ لاَيَسْمَعُوْنَ بِهاَ اُولآئِكَ كاَلاَنْعَامِ بَلْ هُمْ اَضَلُّ  اُولآئِكَ هُمُ الْغَافِلُوْنَ . الاعراف 179
Dan pasti akan Kami campakkan ke dalam neraka jahannam itu, kebanyakan dari golongan Jin dan manusia, mereka punya hati tetapi tidak dipergunakan untuk memahami ayat-ayat Allah, dan mereka punya mata tetapi tidak dipergunakan untuk melihat ayat-ayat Allah, dan mereka punya telinga, tetapi juga tidak dipergunakan untuk mendengar ayat-ayat Allah, mereka itu laksana binanatng, bahkan lebih sesat lagi, dan mereka itulah makhluk-makhluk  yang lalai (QS. 7 (al-A’raf ): 179).

‎"Sesungguhnya pada yang demikian benar-benar terdapat PERINGATAN bagi orang-orang yang mempunyai HATI atau yang menggunakan Pendengarannya sedang dia menyaksikannya." (QS.Qaaf:37)

PANCA INDERAWI MANUSIA ADALAH UJIAN YANG MEMBUAT KITA BERPALING DARI ALLAH

QS. AL-INSAN
1. Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?
2. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur. yang Kami hendak MENGUJINYA , karena itu Kami jadikan dia MENDENGAR dan MELIHAT.
3. Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.

PANCA INDERAWI MANUSIA ADALAH UJIAN YANG MEMBUAT BERPALING DARI ALLAH

Bila Telingamu terlalu banyak mendengar.
Matamu terlalu banyak melihat.
Hidungmu terlalu banyak mencium dan mulutmu terlalu banyak bicara.
Maka hatimu akan keras seperti batu, penuh hawa nafsu.
Hentikanlah sejenak aktivitas panca indramu, dengarlah suara hatimu, dan lihatlah Tuhanmu.

Ingatlah, dimana Perhatian Panca Inderawimu berada, disitu juga Kesadaran Hatimu berada.
Panca Indera adalah pelita tubuh, jika panca indera mu baik, teranglah seluruh tubuhmu.
Jika panca inderamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu.

PANDANGAN PANCA INDERA DAN HATI

”Mata adalah panglima hati. Hampir semua perasaan dan perilaku awalnya dipicu oleh pandangan mata. Bila dibiarkan mata memandang yang dibenci dan dilarang, maka pemiliknya berada di tepi jurang bahaya. Meskipun ia tidak sungguh-sungguh jatuh ke dalam jurang". Demikian potongan nasihat Imam Ghazali rahimahullah dalam kitab Ihya Ulumuddin.
Beliau memberi wasiat agar tidak menganggap ringan masalah pandangan. Ia juga mengutip bunyi sebuah sya’ir, "Semua peristiwa besar awalnya adalah mata. Lihatlah api besar yang awalnya berasal dari percikan api."

Saudaraku,
Semoga Allah memberi naungan barakahNya kepada kita semua. Fitnah dan ujian tak pernah berhenti. Sangat mungkin, kita kerap mendengar bahkan mengkaji masalah mata. Tapi belum tentu kita termasuk dalam kelompok orang yang bisa memelihara pandangan mata. Padahal, seperti diungkapkan oleh Imam Ghazali tadi, orang yang keliru menggunakan pandangan, berarti ia terancam bahaya besar karena mata adalah pintu paling luas yang bisa memberi banyak pengaruh pada hati.
Menurut Imam Ibnul Qayyim, mata adalah penuntun, sementara hati adalah pendorong dan pengikut. Yang pertama, mata, memiliki kenikmatan pandangan. Sedang yang kedua, hati, memiliki kenikmatan pencapaian. "Dalam dunia nafsu keduanya adalah sekutu yang mesra. Jika terpuruk dalam kesulitan, maka masing-masing akan saling mecela dan mencerai," jelas Ibnul Qayyim. Pemenuhan hasrat pencapaian seringkali menjadi dasar motivasi yang menggebu-gebu untuk mendapatkan atau menikahi seseorang. Padahal siap nikah dan siap jadi suami/istri adalah dua hal yang berbeda. Yang pertama, nuansa nafsu lebih dominan; sedangkan yang kedua, sarat dengan nuansa amanah, tanggung-jawab dan kematangan.

Saudaraku,
Simak juga dialog imajiner yang beliau tulis dalam kitab Raudhatul Muhibbin: "Kata hati kepada mata, "kaulah yang telah menyeretku pada kebinasaan dan mengakibatkan penyesalan karena aku mengikutimu beberapa saat saja. Kau lemparkan kerlingan matamu ke taman dan kebun yang tak sehat. Kau salahi firman Allah, "Hendaklah mereka menahan pandangannya". Kau salahi sabda Rasulullah saw, "Memandang wanita adalah panah beracun dari berbagai macam panah iblis. Barangsiapa meninggalkannya karena takut pada Allah, maka Allah akan memberi balasan iman padanya, yang akan didapati kelezatan dalam hatinya." (HR.Ahmad)
Tapi mata berkata kepada hati, "Kau zalimi aku sejak awal hingga akhir. Kau kukuhkan dosaku lahir dan batin. Padahal aku hanyalah utusanmu yang selalu taat dan mengikuti jalan yang engkau tunjukkan. Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya dalam tubuh itu ada segumpal darah. Jika ia baik, maka seluruh tubuh akan baik pula. Dan jika ia rusak, rusak pula seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal darah itu adalah hati " (HR. Bukhari dan Muslim). Hati adalah raja. Dan seluruh tubuh adalah pasukannya. Jika rajanya baik maka baik pula pasukannya. Jika rajanya buruk, buruk pula pasukannya. Wahai hati, jika engkau dianugerahi pandangan, tentu engkau tahu bahwa rusaknya pengikutmu adalah karena kerusakan dirimu, dan kebaikan mereka adalah kebaikanmu . Sumber bencana yang menimpamu adalah karena engkau tidak memiliki cinta pada Allah, tidak suka dzikir kepada-Nya, tidak menyukai firman, asma dan sifat-sifatNya. Allah berfirman, "Sesungguhnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta adalah hati yang ada di dalam dada". (QS.AI-Hajj:46)

Saudaraku,
Banyak sekali kenikmatan yang menjadi buah memelihara mata. Coba perhatikan tingkat-tingkat manfaat yang diuraikan oleh Imam Ibnul Qayyim dalam Al-Jawabul Kafi Liman Saala Anid Dawa’i Syafi. "Memelihara pandangan mata, menjamin kebahagiaan seorang hamba di dunia dan akhirat. Memelihara pandangan, memberi nuansa kedekatan seorang hamba kepada Allah, menahan pandangan juga bisa menguatkan hati dan membuat seseorang lebih merasa bahagia, menahan pandangan juga akan menghalangi pintu masuk syaithan ke dalam hati. 
Mengosongkan hati untuk berpikir pada sesuatu yang bermanfaat, Allah akan meliputinya dengan cahaya. Itu sebabnya, setelah firmanNya tentang perintah untuk mengendalikan pandangan mata dari yang haram, Allah segera menyambungnya dengan ayat tentang "nur", cahaya. (Al-Jawabul Kafi, 215-217)

Saudaraku,
Perilaku mata dan hati adalah sikap tersembunyi yang sulit diketahui oleh orang lain, kedipan mata apalagi kecenderungan hati, merupakan rahasia diri yang tak diketahui oleh siapapun, kecuali Allah swt, "Dia (Allah) mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati ". (QS. Al-mukmin:l9). Itu artinya, memelihara pandangan mata yang akan menuntun suasana hati, sangat tergantung dengan tingkat keimanan dan kesadaran penuh akan ilmuLlah (pengetahuan Allah) . Pemeliharaan mata dan hati, bisa identik dengan tingkat keimanan seseorang.

Saudaraku,
Dalam sebuah hadits dikisahkan, pada hari kiamat ada sekelompok orang yang membawa hasanat (kebaikan) yang sangat banyak . Bahkan Rasul menyebutnya, kebaikan itu bak sebuah gunung. Tapi ternyata, Allah swt tak memandang apa-apa terhadap prestasi kebaikan itu. Allah menjadikan kebaikan itu tak berbobot, seperti debu yang berterbangan. Tak ada artinya. Rasul mengatakan, bahwa kondisi seperi itu adalah karena mereka adalah kelompok manusia yang melakukan kebaikan ketika berada bersama manusia yang lain. Tapi tatkala dalam keadaan sendiri dan tak ada manusia lain yang melihatnya, ia melanggar larangan-larangan Allah (HR. Ibnu Majah)

Kesendirian, kesepian, kala tak ada orang yang melihat perbuatan salah, adalah ujian yang akan membuktikan kualitas iman. Di sinilah peran mengendalikan Panca Indera terutama mata dan kecondongan hati termasuk dalam situasi kesendirian, karena ia menjadi bagian dari suasana yang tak diketahui oleh orang lain, "Hendaklah engaku menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya yakinilah bahwa Ia melihatmu". Begitu pesan Rasulullah saw. Wallahu’alam.

SEPULUH ADALAH ANGKA GENAP, ANGKA PENUTUP DAN PENYEMPURNA

Mengapa manusia berhitung sampai dengan 10 ?. Jawabnya, karena jari tangan Nabi Adam adalah 10 jari.

Basis modular 10 ini telah diperkenalkan sejak zaman Nabi Syu’aib as, pada waktu Nabi Musa as tiba di Madyan. Ketika itu Nabi Syu’aib sudah memakai bilang Basis Modular 10. Nabi Syu’aib mengatakan bahwa sempurna itu 10.


kata "SEPULUH" di dalam Alquran ditemukan ada pada 10 ayat

1. Dan malam-malam sepuluh (QS.89 ayat 2)
2. Dan sempurnakanlah ibadah haji dan `umrah karena Allah. Jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), maka (sembelihlah) korban  yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu , sebelum korban sampai di tempat penyembelihannya. Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfid-yah, yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkorban. Apabila kamu telah (merasa) aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan `umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) korban yang mudah didapat. Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. Demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram (orang-orang yang bukan penduduk kota Mekah). Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya.
(Al-Baqarah ayat 196)
3. Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber`iddah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah habis `iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka  menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.
Al-Baqarah ayat 234

4. Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya).
Al-Maaidah ayat 89

5. Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).
Al-An`aam ayat 160)

6. Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam. Dan berkata Musa kepada saudaranya yaitu Harun: "Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah , dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan".
(Al-A`raaf ayat 142)

7. Bahkan mereka mengatakan: "Muhammad telah membuat-buat Al Qur`an itu", Katakanlah: "(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar".
(Hud ayat 13)

8. mereka berbisik-bisik di antara mereka: "Kamu tidak berdiam (di dunia) melainkan hanyalah sepuluh (hari)"
(Thaahaa ayat 103)
9.Berkatalah dia (Syu`aib): "Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkansepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu Insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik".
(Al-Qashash ayat 27)

10. Dan orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan sedang orang-orang kafir Mekah itu belum sampai menerima sepersepuluh dari apa  yang telah Kami berikan kepada orang-orang dahulu itu lalu mereka mendustakan rasul-rasul-Ku. Maka alangkah hebatnya akibat kemurkaan-Ku.
(Saba` ayat  45)

catatan:  kata "SEPULUH"    di dalam Alquran ditemukan ada pada 10 ayat

DEMI CAHAYA FAJAR, DEMI MALAM YANG SEPULUH, DEMI YANG GENAP DAN YANG GANJIL (QS.ALFAJR:1-3)

YANG SEPULUH MENUTUP YANG TUJUH, YANG GENAP MENUTUP YANG GANJIL, MAKA AKAN ENGKAU SAKSIKAN CAHAYA FAJAR.

INGATKANLAH MEREKA KEPADA HARI - HARI ALLAH
Do`a mereka di dalamnya (surga): "Subhanakallahumma" , dan salam penghormatan mereka: "Salam" .
Dan penutup do`a mereka :"Alhamdulilaahi Rabbil `aalamin (QS. 10 ayat 10)

PANCA INDERA ADALAH PINTU

Mata ini adalah pintu
Dan hati ini adalah Tuan rumah
Dan perasaan adalah sejumlah keluarga
yang bermacam karakter

Telinga ini adalah pintu
yang setiap saat bisa terbuka dan tertutup
menerima dan mendengar setiap kisah hidup
dan sekaligus menutup
untuk setiap lembaran cerita hidup masa lalu

Mulut ini adalah pintu
Siapa yang yang mengunci dan terkunci
tidak akan pernah kita atau dia tahu

Hidung ini adalah pintu
Untuk membuka dan membuang gelisah dan desah
terbuka dan tertutup atas semua galau
yang nampak dan terasa

Kulit ini adalah pintu
Siapapun bisa teraba dan masuk
dan berjiwa di dalamnya
tapi kemudian akan mati dan tertutup
dalam sejatinya jiwa dan raga

Panca indera ini adalah pintu
yang akan menampakan dunia dengan segala sandiwaranya
dan akan usai saat sang pintu waktu tertutup

Apalah artinya tatapan kalau rasa itu selalu tertutup
Apalah artinya bicara kalau asa itu tak pernah terbuka
Apalah artinya mendengar kalau hati itu tidak pernah terbuka
Apalah artinya mencium kalau wangi kasih tersumbat
Apalah artinya membelai kalau ragamu tak pernah berbuat

Janganlah ingkari suara hati dan pikiranmu!

Mintalah fatwa (keterangan) kepada hati dan jiwamu. Kebajikan ialah apa yang menyebabkan jiwa dan hati tentram kepadanya, sedangkan dosa ialah apa yang merisaukan jiwa dan menyebabkan ganjalan dalam dada walaupun orang-orang meminta atau memberi fatwa kepadamu. (HR. Muslim)